Selasa, 03 Februari 2015
Memahami Bentuk dan Pembagian Sunnah
Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Sunnah adalah kata Arab yang berarti "kebiasaan" atau "biasa dilakukan".[Secara istilah sunnah adalah jalan yang di tempuh oleh rasulullah dan para sahabatnya, baik ilmu, keyakinan, ucapan, perbuatan, maupun penetapan.
Dilihat dari bentuknya,sunnah di bagi menjadi 4 yaitu sunnah Qawliyah,Sunnah Fi'liyah,sunnah Taqririyah dan sunnah khulufaur rasyidhin.Sunnah Qawliyah,Fi'liyah dan Taqririyah ini adalah sunnah yang terbentuk saat Rasulullah saw masih hidup,sedang sunnah khulufaur rasyidhin terbentuk saat Rasulullah saw telah wafat.
Penjelasan Tentang Bentuk Sunnah
---Pertama,Sunnah Qawliyah yaitu sunnah Nabi yang hanya berupa ucapannya saja baik dalam bentuk pernyataan, anjuran, perintah cegahan maupun larangan.
Sunnah semacam ini sangat banyak dalam hadist hadist Rasulullah saw,Salah satu Contoh Qawliyah yaitu Sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasalam,
"Orang Islam adalah saudara orang Islam yang lain, ia tidak menganiaya dan tidak menyerahkannya kepada musuh, barangsiapa memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi kebutuhannya, barangsiapa menghilangkan kesusahan orang Islam maka Allah menghilangkan kesusahan darinya dari beberapa kesusahan hari kiamat, dan barangsiapa menutupi (aib) orang Islam maka Allah menutupinya (aibnya) pada hari kiamat" (HR. Bukhari, Ahmad dan Muslim)
---Kedua,Sunnah Fi’liyah yaitu sunnah Nabi yang berupa perbuatan Nabi yang diberitakan oleh para sahabat mengenai soal-soal ibadah dan lain-lain seperti melaksanakan shalat manasik hajji dan lain-lain.
Jadi Sunnah Fi'liyah ini adalah perkataan para sahabat Rasulullah yang melihat perbuatan/ibadah Rasulullah,lalu sahabat ini menceritakan kepada orang lain,seperti cara wudhu Rasulullah,cara shalat,dll.
Salah satu Contoh sunnah Fi'liyah dalam sebuah hadist
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan,
“Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan salam ke kanan dan ke kiri, mengucapkan ”Assalamu alaikum wa rahmatullah”, hingga terlihat putihnya pipi beliau.” (HR. Nasai, Abu Daud)
---Ketiga,Sunnah Taqririyah, yaitu sunnah Nabi yang berupa penetapan Nabi terhadap perbuatan para sahabat yang diketahui Nabi tidak menegornya atau melarangnya bahkan Nabi cenderung mendiamkannya.
Jadi sunnah Taqririyah ini adalah amaliyah para sahabat yang tidak keluar dari syariat saat Rasulullah masih hidup dimana Rasulullah tidak menganjurkannya,tapi ketika mengetahuinya Rasulullah tidak melarang.Terkadang ada segelintir orang yang keliru menafsirkan amalan sunnah Taqririyah ini dan menganggapnya sebagai bentuk Bid'ah,padahal tidak demikian.
Untuk sunnah Taqririyah ini saya akan beri 4 contoh tentang penetapan Nabi terhadap perbuatan sahabat yang mana Nabi menyetujui,membenarkan,tidak melarang dan mendiamkan.
Ada sahabat yang membaca. "Rabbanaa wa lakal hamdu hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiih" ketika i’tidal. Selesai shalat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Siapa yang tadi membaca doa i’tidal tersebut?” Salah seorang sahabat mengaku. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Saya melihat ada 30 lebih malaikat yang berebut mengambil bacaan ini. Siapa diantara mereka yang paling cepat mencatatnya.” (HR. Bukhari, Muslim, dan yang lainnya).
Dari A'isyah r.a., bahwasanya Nabi Muhammad sholallohu 'alaihi wasallam pernah mengutus seorang shahabat dalam sebuah pertempuran. Lalu dia mengimami sholat dan selalu membaca surat Al-Ikhlas. Tatkala mereka kembali dari pertempuran mereka adukan hal tersebut kepada Nabi Muhammad sholallohu 'alaihi wasallam. Beliau bersabda: "Tanyakan kepadanya apa yang melatarbelakangi dia berbuat seperti itu, merekapun menanyakannya. Lalu dia pun menjawab: "Karena sesungguhnya surat Al-Ikhlas itu mengandung sifat yang dimiliki oleh Ar-Rohman (Alloh SWT) dan aku suka untuk membacanya. Maka Nabi Muhammad sholallohu 'alaihi wasallam bersabda: "Kabarkan kepadanya bahwa Alloh subhanahu wata'ala mencintainya" (HR. Al-Bukhari no.7375)
"Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bertanya pada Bilal setelah salat Subuh: Wahai Bilal, ceritakan pada saya amal apa yang paling kamu harapkan yang telah kau kerjakan dalam Islam. Sebab saya mendengar langkah sandalmu di hadapan saya di surga. Bilal menjawa: Tidak ada amal yang paling saya harapkan selain saya tidak pernah bersuci baik siang atau malam kecuali saya salat (sunah) sesuai yang dicatat pada saya" (HR al-Bukhari No 1081)
ketika dihidangkan kepada beliau makanan daging biawak oleh sahabat Khalid bin Walid, dalam salah satu jamuan makan. Beliau bersama para undangan dipersilakan makan, namun beliau menjawab: “Tidak (maaf). Berhubung binatang ini tidak terdapat di kampung kaumku, aku jijik padanya.” Kata Khalid: “Segera aku memotongnya dan memakannya, sedang Rasulullah saw. melihat kepadaku (Nabi mendiamkan).” (HR Bukhari dan Muslim)
---Keempat,Sunnah khulafaur rasyidin
Berdasarkan sabda Rasulullah ,
"Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap ajaranku dan ajaran Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk, gigitlah (genggamlah dengan kuat) dengan geraham.,"(Riwayat Abu Daud dan Turmuzi, dia berkata : hasan shahih)
as-Sindi ketika menjelaskan hadis tersebut di dalam Sunan Ibnu Majah,
“Dikatakan mereka itu (khulafa’ur-Rasyidin) adalah yang empat (Abu Bakar, Umar, Utsman, & Ali), dan dikatakan bahkan mereka itu adalah khalifah yang empat dan siapa saja yang menempuh jejak mereka dari para Imam (pemimpin) Islam yang berijtihad (mujtahidin) dalam hal hukum, maka sesungguhnya mereka itu adalah khulafa’ur-Rasul (pengganti Rasulullah Saw.) yang meninggikan kebenaran, menghidupkan agama, dan membimbing umat kepada jalan yang lurus.”
sunnah khulafa’ur-Rasyidin adalah hasil ijtihad sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wasalam dan oleh Rasulullah hal itu di tetapkan termasuk bagian dari sunnah yang harus kita ikuti.
Contoh sunnah khulufaur Rasyidhin yaitu
#KeKhalifahan Abu Bakar
Pengumpulan Al-Qur an dalam satu mushaf
Gagasan ini merupakan masukan ‘Umar. Pada mula Abu Bakr menolak, namun akhirnya ‘Umar dapat meyakinkannya sehingga ia memutuskan untuk melakukan jam’u al-Qur’an fi mus}h}af wa>hid karena dirasakannya manfaat yang besar dan kerugian yang besar bila tidak dilakukan
#Kekhalifahan Umar Bin khatthab
Shalat Tarawih berjama'ah dengan mengangkat satu orang sebagai Imam Shalat
Sebenarnya shalat tarawih baik sendirian maupun berjamaah ada dalilnya dari Rasulullah,jadi sah-sah saja mengerjakan Tarawih sendirian atau jama'ah..Akan tetapi menginstruksikan agar shalat tarawih dikerjakan berjamaah dengan satu imam dalam masjid,Umar bin Khatthab RA adalah pelopornya.
Abdurrahman bin Abdul Qariy berkata :
“Suatu malam di bulan Ramadhan, aku keluar bersama Umar bin Al-Khattab menunju masjid. Ternyata kami dapati manusia berpencar-pencar disana sini. Ada yang shalat sendirian, ada juga yang shalat mengimami beberapa gelintir orang. Beliau berkomentar : “(Demi Allah), seandainya aku kumpulkan orang-orang itu untuk shalat bermakmum kepada satu imam, tentu lebih baik lagi”. Kemudian beliau melaksanakan tekadnya, beliau mengumpulkan mereka untuk shalat bermakmum kepada Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu ‘anhu. Abdurrahman melanjutkan : “Pada malam yang lain, aku kembali keluar bersama beliau, ternyata orang-orang sudah sedang shalat bermakmum kepada salah seorang qari mereka. Beliaupun berkomentar :
“Sebaik-baik bid’ah, adalah seperti ini”.
Namun mereka yang tidur dahulu (sebelum shalat) lebih utama dari mereka yang shalat sekarang”
Yang beliau maksudkan yaitu mereka yang shalat di akhir waktu malam. Sedangkan orang-orang tadi shalat di awal waktu malam”
Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwattha (I : 136-137), demikian juga Al-Bukhari (IV : 203), Al-Firyabi (II : 73, 74 : 1-2).
#Kekhalifaan Ustman Bin Affan
Adzan 2 kali ketika shalat jum'at
“Dari Az Zuhri, dia berkata, “Aku mendengar As Sa’ib bin Yazid mengatakan, “Adzan pada hari Jum’at semula dilaksanakan keytika imam duduk di atas mimbar pada masa Rasulullah , Abu Bakar dan Umar. Pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan jumlah jamaah semakin banyak, Utsman memerintahkan pelaksanaan adzan ketiga. Maka adzan ketiga itupun dilaksanakan di atas pasar Zaura’ lalu berlangsung hingga seterusnya”
Yang dimaksud dengan “adzan ketiga” adalah adzan sesaat menjelang khatib naik mimbar. Sedangkan adzan pertama adalah adzan setelah khatib duduk di mimbar dan adzan kedua adalah Iqamah.(Shahih Al-Bukhari)
#Kekhalifaan Ali Bin Abi Thalib
Shalat sunnah sebelum dan sesudah Shalat Id
Dari Walid bin Sari' budak yang dimerdekakan oleh 'Amr bin Huraits. Ia berkata: Kami keluar bersama Amiril Mu'minin Ali bin Abi Thalib pada hari raya. Kemudian sekelompok sahabat bertanya kepada beliau: Wahai Amiril Mu'minin, apa pendapatmu tentang salat pada hari raya setelah imam naik ke mimbar atau sebelumnya? Beliau tidak menjawab sedikitpun. Kemudian sekelompok yang lain datang dan bertanya tentang hal tersebut. Beliau juga tidak menjawabnya. Kemudian kami berdiri untuk salat, beliau menjadi imam, lalu bertakbir 7 kali dan 5 kali dan dilanjutkan dengan khutbah. Setelah selesai beliau turun dan menaiki kendaraannya, sekelompok kaum bertanya: Wahai Amiril Mu'minin, mereka ini sekelompok kaum yang salat (qabliyah atau ba'diyah). Ali menjawab: Saya bukannya menolak. Kalian bertanya tentang sunah. Sesungguhnya Nabi Saw tidak melakukan salat sebelum dan sesudah hari raya. Siapa yang mau silahkan kerjakan. Siapa yang tidak mau silahkan tinggalkan. Tahukah kalian jika aku melarang orang salat, maka saya digolongkan sebagai 'orang yang melarang salat terhadap orang lain'. Al-Bazzar berkata: Kami tidak mengetahui sanad ini tersambung dengan Ali kecuali melalui jalur ini" (al-Hafidz al-Haitsami, Kasyfu al-Astar bi Zawaid al-Bazzar I/251)
Hukuman peminum khamar
Ali bin Abi Thalib melakukan ijtihad dengan menggunakan qiyas yaitu mengqiyaskan hukuman orang yang meminum khamar dengan hukuman orang yang melakukan qadzaf(menuduh orang lain berzina). Alasan Ali bin Abi Thalib adalah bahwa sesorang yang mabuk karena meminum khamar akan mengigau. Apabila dia mengigau, maka ucapannya tidak bisa dikontrol, dan akan menuduh orang lain berbuat zina. Hukuman bagi pelaku qadzaf adalah 80 kali dera. Oleh sebab itu, hukuman orang yang meminum khamar sama dengan hukuman menuduh orang lain berbuat zina.
Demikianlah pembahasan tentang bentuk sunnah dan penjelasannya,agar kita tahu batasan sunnah yang ditetapkan dalam ajaran dan syariat islam,sehingga kita tidak melakukan amalan diluar dari yang disyariatkan.
Wallahu a'lam bish shawab..
Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.
(Dirangkum dari Berbagai Sumber)
Senin, 02 Februari 2015
Ilmu,Kewajiban dan Keutamaannya
Salah satu fenomena yang cukup memprihatinkan pada zaman kita saat ini adalah rendahnya semangat dan motivasi untuk menuntut ilmu agama. Ilmu agama seakan menjadi suatu hal yang remeh dan terpinggirkan bagi mayoritas kaum muslimin. Berbeda halnya dengan semangat untuk mencari ilmu dunia. Seseorang bisa jadi mengorbankan apa saja untuk meraihnya. Kita begitu bersabar menempuh pendidikan mulai dari awal di sekolah dasar hingga puncaknya di perguruan tinggi demi mencari pekerjaan dan penghidupan yang layak. Mayoritas umur, waktu dan harta kita, dihabiskan untuk menuntut ilmu dunia di bangku sekolah. Bagi yang menuntut ilmu sampai ke luar negeri, mereka mengorbankan segala-galanya demi meraih ilmu dunia: jauh dari keluarga, jauh dari kampung halaman, dan sebagainya. Lalu, bagaimana dengan ilmu agama? Terlintas dalam benak kita untuk serius mempelajarinya pun mungkin tidak.
Kewajiban Mempelajari Ilmu Agama
Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah)
Ilmu apa yang di maksud ?
Firman Allah Ta'ala
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Dan katakanlah,‘Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu’“. (QS. Thaaha [20] : 114)
maka Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata,
( وَقَوْله عَزَّ وَجَلَّ : رَبّ زِدْنِي عِلْمًا ) وَاضِح الدَّلَالَة فِي فَضْل الْعِلْم ؛ لِأَنَّ اللَّه تَعَالَى لَمْ يَأْمُر نَبِيّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِطَلَبِ الِازْدِيَاد مِنْ شَيْء إِلَّا مِنْ الْعِلْم ، وَالْمُرَاد بِالْعِلْمِ الْعِلْم الشَّرْعِيّ الَّذِي يُفِيد مَعْرِفَة مَا يَجِب عَلَى الْمُكَلَّف مِنْ أَمْر عِبَادَاته وَمُعَامَلَاته ، وَالْعِلْم بِاَللَّهِ وَصِفَاته ، وَمَا يَجِب لَهُ مِنْ الْقِيَام بِأَمْرِهِ ، وَتَنْزِيهه عَنْ النَّقَائِض
“Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu’ mengandung dalil yang tegas tentang keutamaan ilmu. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta tambahan sesuatu kecuali (tambahan) ilmu. Adapun yang dimaksud dengan (kata) ilmu di sini adalah ilmu syar’i. Yaitu ilmu yang akan menjadikan seorang mukallaf mengetahui kewajibannya berupa masalah-masalah ibadah dan muamalah, juga ilmu tentang Allah dan sifat-sifatNya, hak apa saja yang harus dia tunaikan dalam beribadah kepada-Nya, dan mensucikan-Nya dari berbagai kekurangan”. (Fathul Baari, 1/92)
Ilmu memiliki banyak keutamaan, diantaranya:
1. Ilmu adalah amalan yang tidak terputus pahalanya sebagaimana dalam hadits: ”jika manusia meninggal maka terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara: shodaqoh jariahnya, ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholeh yang mendoakan kedua orang tuanya,” (HR Bukhori dan Muslim)
2. Menjadi saksi terhadap kebenaran sebagaimana dalam firman Allah SWT: (Allah menyatakan bahwasanya tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali dia. Yang menegakkan keadilan. para malaikat dan orang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu,). (QS. Ali Imran 18)
3. Allah memerintahkan kepada nabinya Muhammad SAW untuk meminta ditambahkan ilmu sebagaimana dalam firman Allah, (… dan katakanlah: Ya Rabb ku, tambahkanlah kepadaku ilmu) (QS.Thahaa 114)
4. Allah mengangkat derajat orang yang berilmu. Sebagaimana firman Allah, (… Allah mengangkat orang beriman dan memiliki ilmu diantara kalian beberapa derajat dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan). (QS. Mujadilah 11)
5. Orang berilmu adalah orang yang takut Allah SWT, sebagaimana dalam firmannya: (…. sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hambanya hanyalah orang-orangyang berilmu). (QS. Fathir 25).
6. Ilmu adalah anugerah Allah yang sangat besar, sebagaimana firman-Nya: (Allah menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-Quran dan As-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)). ( QS. Al-Baqarah 269)
7. Ilmu merupakan tanda kebaikan Allah kepada seseorang ”Barang siapa yang Allah menghendaki kebaikan padanya, maka Allah akan membuat dia paham dalam agama,” (HR Bukhari dan Muslim).
8. Menuntut ilmu merupakan jalan menuju surga, ”Barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surge,” (HR Muslim)
9. Diperbolehkannya ”hasad” kepada ahli ilmu,”Tidak hasad kecuali dalam dua hal, yaitu terhadap orang yang Allah beri harta dan ia menggunakannya dalam kebenaran dan orang yang Allah beri hikmah lalu ia mengamalkannya dan mengajarkannya,” (HR Bukhari )
10. Malaikat akan membentangkan sayap terhadap penuntut ilmu,”Sesungguhnya para malaikat benar-benar membentangkan sayapnya karena ridho atas apa yang dicarinya,” (HR. Ahmad dan Ibnu majah).
Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata,
تَعَلَّمْ الْعِلْمَ فَإِنَّ تَعَلُّمَهُ لَكَ حَسَنَةٌ ، وَطَلَبَهُ عِبَادَةٌ ، وَمُذَاكَرَتَهُ تَسْبِيحٌ ،
وَالْبَحْثَ عَنْهُ جِهَادٌ ، وَتَعْلِيمَهُ مَنْ لَا يَعْلَمُهُ صَدَقَةٌ ، وَبَذْلَهُ لِأَهْلِهِ قُرْبَةٌ .
"Tuntutlah ilmu (belajarlah Islam) karena mempelajarinya adalah suatu kebaikan untukmu. Mencari ilmu adalah suatu ibadah. Saling mengingatkan akan ilmu adalah tasbih. Membahas suatu ilmu adalah jihad. Mengajarkan ilmu pada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Mencurahkan tenaga untuk belajar dari ahlinya adalah suatu qurbah (mendekatkan diri pada Allah).”( Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Ma’ani Alfaazhil Minhaaj)
Ibnul Qoyyim rahimahullah memberi nasehat kepada para penuntut ilmu agama,beliau mengatakan,
"Betapa indahnya perkataan penyair, ilmu adalah firman Allah dan sabda rasul-Nya. Demikian pula perkataan shahabat. Ini adalah suatu hal yang jelas. Bukanlah ilmu sikapmu yang dengan kebodohan mempertentangkan hadits Nabi dengan pendapat ulama. Sekali-kali tidak, bukanlah termasuk ilmu menolak dan mengingkari sifat Allah karena khawatir menyamakan dan menyerupakan Allah dengan makhluk”
(Fawaid hal 105).
Jangan sampai kita menjadi orang yang sangat pandai tentang seluk-beluk ilmu dunia dengan segala permasalahannya, namun lalai terhadap ilmu agama. Hendaknya kita merenungkan firman Allah Ta’ala,
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedangkan mereka lalai tentang (kehidupan) akhirat”. (QS. Ar-Ruum [30]: 7)
Nasehat saya,banyaklah membaca dan banyaklah mendengarkan perkataan orang yang berilmu niscaya akan bertambah pengetahuan anda..Ilmu itu di dapat dari membaca dan mendengar,bukan dari bicara.Dan jangan lupa untuk mengamalkan ilmu yang anda pelajari
Berkata Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhumaa:
“Barangsiapa yang berusaha mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya, maka Allah akan menunjukkan mereka apa yang belum mereka ketahui”
Setiap kebaikan yang kita lakukan,akan membukakan pintu bagi kita menuju kebaikan yang lain.
Wallahu a'lam,bish shawab..
Jumat, 30 Januari 2015
5 Kebaikan Memanjangkan Jenggot dari Segi Kesehatan
Bismillah...
Selalu ada kebaikan di balik sunnah,
Banyak umat islam yang anti bahkan risih dengan yang namanya jenggot.Tidak semestinya kita membenci sunnah Rasulullah yang satu ini.Dibalik setiap sunnah sekecil apapun itu pasti ada kebaikan lain didalamnya.
Dan inilah yang berlaku pada jenggot.Berdasarkan penelitian,memanjangkan jenggot ternyata memberi dampak positif bagi kesehatan.Berikut ulasannya,5 Alasan kenapa harus menjaga jenggot anda..
1. Melindungi dari Paparan Sinar UV.
Menurut penelitian terbaru dari University of Southern Queensland, jenggot dapat melindungi hingga 95 persen dari sinar UV matahari, sehingga dapat mencegah karsinoma sel basal atau kanker.
2. Mencegah Infeksi Kulit.
Penggunaan pisau cukur ternyata dapat menyebabkan jerawat, ruam di kulit, serta peradangan pada partikel rambut. Menurut Dr Shannon C. Trotter, seorang rekan dari College of Osteopathic Dermatologi dan dermatologis di Ohio State Wexner Medical Center mengatakan, "Penggunaan pisau cukur dapat mengiritasi kulit serta penyebaran bakteri yang dapat menyebabkan infeksi pada partikel rambut."
3. Terlihat Lebih Maskulin.
Menurut penelitian yang diterbitkan dalam Evolusi dan Perilaku Manusia. Anda dapat terlihat lebih maskulin jika memiliki jenggot tipis yang menghiasi wajah. Studi ini menemukan bahwa pria yang memiliki jenggot tipis tampak terlihat sangat menarik di mata wanita.
4. Pelembab Wajah Alami Kulit kita memiliki kelenjar minyak alami yang dapat melembabkan wajah.
Menurut Dr Trotter, kelenjar sebaceous atau kelenjar minyak di wajah Anda berfungsi untuk menjaga kelembapan kulit. Memiliki jenggot tebal, berarti terdapat kelenjar minyak yang tersembunyi di dalamnya, sehingga membuat kulit di sekitar jenggot memiliki kelembapan alami . Jenggot juga dapat melindungi kulit dari paparan angin yang dapat mebuat kulit Anda kering dan infeksi.
5. Mengatasi Asma dan Flu.
Dr Felix Chua, seorang dokter konsultan pernapasan di Klinik London, mengatakan, "Secara teori, kumis dan jenggot dapat menghentikan hal-hal yang memicu asma, karena dua hal tersebut adalah saringan alami yang menangkap berbagai polutan sebelum Anda menghirup udara.
"Jenggot tebal yang tumbuh dibawah dagu dan leher juga dapat menaikkan suhu di sekitar leher sehingga dapat membantu melawan batuk dan pilek saat Anda menderita flu. "Rambut adalah isolator yang membuat tubuh Anda hangat. Jenggot panjang dan lebat juga dapat menghangatkan wajah dan leher Anda ketika cuaca dingin"
Begitu besar manfaat sunnah Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam,sehingga kita lihat banyak orang bahkan orang non muslim sebagian dari mereka melakukannya.Lalu kenapa kita harus enggan?
Baarakallahu fikum..
Wallahu a'lam bish shawab
Kamis, 29 Januari 2015
Wahai para Wanita..Auratmu!!
Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Wahai para wanita...tahukah anda bahwa:
Semakin banyak pandangan lelaki yang tergiur denganmu semakin bertumpuk pula dosa-dosamu
Semakin sang lelaki menghayalkanmu...semakin berhasrat denganmu maka semakin bertumpuk pula dosa-dosamu
Janganlah anda menyangka senyumanmu yang kau tebarkan secara sembarangan tidak akan ada pertanggungjawabannya kelak..!!!. Bisa jadi senyumanmu sekejap menjadi bahan lamunan seorang lelaki yang tidak halal bagimu selama berhari-hari.., apalagi keelokan tubuhmu....
Bayangkanlah... betapa bertumpuk dosa-dosa para artis dan penyanyi yang aurotnya diumbar di hadapan ribuan...bahkan jutaan para lelaki??
Jika anda menjaga kecantikanmu dan kemolekan tubuhmu hanya untuk suamimu...maka anda kelak akan semakin cantik dan semakin molek di surga Allah...,
Akan tetapi jika anda umbar kecantikanmu dan kemolekanmu maka ingatlah itu semua akan sirna dan akan lebur di dalam liang lahad menjadi santapan cacing dan ulat...dan di akhirat kelak...bisa jadi berubah menjadi bahan bakar neraka jahannam!
Dan untuk anda wahai para suami...istrimu adalah pakaianmu...titipan dari Allah khusus untukmu yang harus kamu jaga....jangan sampai lelaki lain memakai pakaianmu...
Wahai para suami,istrimu adalah perhiasan juga bagimu,jagalah dia,jangan biarkan lelaki lain ikut menikmati indahnya perhiasan milikmu
Sungguh memilukan tatkala melihat seorang suami membiarkan istrinya menjadi santapan pandangan mata-mata nakal para lelaki...., ikut menikmati keindahan tubuhnya....ikut tergiur memandang paras cantiknya...
Diimanakah kecemburuanmu ?? ataukah kamu berbangga melihat perhiasanmu menjadi "hidangan" pembangkit nafsu bagi lelaki lain??
Jagalah dirimu,jagalah anakmu,jagalah istrimu,dan jagalah keluargamu dari siksa api neraka yang bahan bakarnya bisa jadi adalah kalian sendiri..!
Na'udzubillah...
Oleh FRND
Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.
Jangan Membenci Jenggot!!
Bismillah...
Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Ironis,kalau melihat orang yang berjenggot,sebagian orang baik dia muslim atau muslimah pasti merasa aneh,jijik,bahkan menjauhi.Tidak sedikit yang mencela bahkan berprasangkah buruk "sok alim lah,sok berilmu lah,sok nyunnah lah"..
Ini bukan permasalahan sok sok'an,ini juga bukan sok nyunnah,tapi ini memang sunnah..Hanya saja sebagian manusia menilai seseorang tidak dari pandangan syariat,hanya melihat sebatas mata saja dan menurut akal pikiran mereka,sehingga hal yang sebenarnya baik jadi jelek karena pemikiran mereka yang menganggapnya jelek.
NABI SAJA BERJENGGOT
Dari Anas bin Malik –pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengatakan,
”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah laki-laki yang berperawakan terlalu tinggi dan tidak juga pendek. Kulitnya tidaklah putih sekali dan tidak juga coklat. Rambutnya tidak keriting dan tidak lurus. Allah mengutus beliau sebagai Rasul di saat beliau berumur 40 tahun, lalu tinggal di Makkah selama 10 tahun. Kemudian tinggal di Madinah selama 10 tahun pula, lalu wafat di penghujung tahun enam puluhan. Di kepala serta jenggotnya hanya terdapat 20 helai rambut yang sudah putih.” (Lihat Mukhtashor Syama’il Al Muhammadiyyah, Muhammad Nashirudin Al Albani, hal. 13, Al Maktabah Al Islamiyyah Aman-Yordan. Beliau katakan hadits ini shohih)
Lihatlah saudaraku, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat di atas dengan sangat jelas terlihat memiliki jenggot. Lalu pantaskah orang berjenggot dicela?!
PERINTAH NABI AGAR MEMANJANGKAN JENGGOT
Hadits pertama, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى
“Potong pendeklah kumis dan biarkanlah (peliharalah) jenggot.” (HR. Muslim no. 623)
Hadits kedua, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَوْفُوا اللِّحَى
“Selisilah orang-orang musyrik. Potong pendeklah kumis dan biarkanlah jenggot.” (HR. Muslim no. 625)
Hadits ketiga, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,
أَنَّهُ أَمَرَ بِإِحْفَاءِ الشَّوَارِبِ وَإِعْفَاءِ اللِّحْيَةِ.
“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk memotong pendek kumis dan membiarkan (memelihara) jenggot.” (HR. Muslim no. 624)
Hadits keempat, dari Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ
“Pendekkanlah kumis dan biarkanlah (perihalah) jenggot dan selisilah Majusi.” (HR. Muslim no. 626)
Hadits kelima, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
انْهَكُوا الشَّوَارِبَ ، وَأَعْفُوا اللِّحَى
“Cukur habislah kumis dan biarkanlah (peliharalah) jenggot.” (HR. Bukhari no. 5893)
Hadits keenam, dari Ibnu Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ ، وَفِّرُوا اللِّحَى ، وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ
“Selisilah orang-orang musyrik. Biarkanlah jenggot dan pendekkanlah kumis.” (HR. Bukhari no. 5892)
Ulama besar Syafi’iyyah, An Nawawi rahimahullah mengatakan, ”Kesimpulannya ada lima riwayat yang menggunakan lafazh,
أَعْفُوا وَأَوْفُوا وَأَرْخُوا وَأَرْجُوا وَوَفِّرُوا
Semua lafazh tersebut bermakna membiarkan jenggot tersebut sebagaimana adanya.” (Lihat Syarh An Nawawi ‘alam Muslim, 1/416, Mawqi’ Al Islam-Maktabah Syamilah 5)
Di samping hadits-hadits yang menggunakan kata perintah di atas, memelihara jenggot juga merupakan sunnah fithroh. Dari Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَشْرٌ مِنَ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الأَظْفَارِ وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ وَنَتْفُ الإِبْطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ
“Ada sepuluh macam fitroh, yaitu memendekkan kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung,-pen), memotong kuku,membasuh persendian, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, istinja’ (cebok) dengan air.” (HR. Muslim no. 627)
Jika seseorang mencukur jenggot, berarti dia telah keluar dari fitroh yang telah Allah fitrohkan bagi manusia. Allah Ta’ala berfirman,
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada penggantian pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar Ruum [30] : 30)
Selain dalil-dalil di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sangat tidak suka melihat orang yang jenggotnya dalam keadaan tercukur.
Ketika Kisro (penguasa Persia) mengutus dua orang untuk menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menemui beliau dalam keadaan jenggot yang tercukur dan kumis yang lebat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka melihat keduanya. Beliau bertanya,”Celaka kalian! Siapa yang memerintahkan kalian seperti ini?” Keduanya berkata, ”Tuan kami (yaitu Kisra) memerintahkan kami seperti ini.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Akan tetapi, Rabb-ku memerintahkanku untuk memelihara jenggotku dan menggunting kumisku.” (HR. Thabrani, Hasan. Dinukil dari Minal Hadin Nabawi I’faul Liha)
Yang Tolak ukur baik buruknya suatu pekara dalam urusan syariat bukan akal pikiran,tapi al-qur'an dan as-sunnah.Jika Al-qur an atau as-sunnah tidak mensyariatkan suatu pekara lalu anda memandang hal yg tidak di syariatkan itu buruk,silahkan..Tapi bagaimana jika pekara itu di syariatkan??Jika anda memandangnya buruk maka berarti anda ingkar terhadap sunnah.
Allah Ta ala berfirman,
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al Ahzab [33]: 36)
Bentuk dosa yang paling besar itu adalah pengingkaran terhadap hukum syariat yang sudah di tetapkan dan di jalankan oleh oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa salam dan shalafush shalih.Sayangnya kebanyakan orang menganggap enteng apa yang dia ucapkan,kurangnya ilmu dan tidak adanya etika dalam beragama,sehingga mulutnya cenderung lancang membicarakan pekara syariat tanpa mengutip satu dalil pun dari kitab Allah dan sunnah Rasulullah.
Mengaku islam tapi membenci syariat islam,mengaku mencintai Allah dan Rasul Nya tapi tidak menyukai sunnah Rasulullah.
فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
"barangsiapa yang membenci sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku".(HR Bukhari)
Semoga mereka yang mencela dan mengatakan hal yang buruk tentang hal ini menjadi sadar,dan semoga mereka yang sudah mampu menjalankan pekara ini di beri kesabaran dan kekuatan.
Wallahu a'lam bish shawab
Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.
Dikutip dan di rangkum dari rumaysho.com
Rabu, 28 Januari 2015
Alasan Mengapa Al-Qur'an diturunkan dengan Bahasa Arab
Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Alasan Bahasa Arab Dipilih Allah SWT Menjadi Bahasa Komunikasi langit dan bumi serta menjadi Bahasa Al-Qur'an
pakar bahasa Arab sering kali menyebutkan di antara keistimewaan itu, antara lain:
1. Bahasa Arab adalah Induk Dari Semua Bahasa Manusia
Pendapat ini sering mengemuka ketika kita mempelajari sejarah suatu bahasa. Analisa yang sering digunakan adalah bahwa sejak manusia pertama, Nabi Adam as, menjejakkan kaki di atas bumi, beliau sudah pandai berbicara. Dan karena sebelumnya beliau adalah penduduk surga, di mana ada keterangan bahwa bahasa penduduk surga adalah bahasa Arab di dalam suatu riwayat, maka otomatis bahasa yang digunakan oleh Nabi Adam as itu adalah bahasa Arab. Dan tentunya anak-anak keturunan Nabi Adam as itu pun menggunakan bahasa Arab. Meskipun setelah itu jumlah mereka tambah banyak dan tersebar ke berbagai benua, kemudian berkembang menjadi jutaan bahasa yang saling berbeda.
2. Bahasa Arab adalah Bahasa Tertua dan Abadi
Berbeda dengan kitab suci agama lain yang hanya berlaku untuk masa yang terbatas, Al-Qur’an sebagai kitab suci diberlakukan untuk masa waktu yang tak terhingga, bahkan sampai datangnya kiamat. Maka bahasa yang digunakan Al-Qur’an haruslah bahasa yang tetap digunakan oleh umat manusia sepanjang zaman.
Kenyataannya, sejarah manusia belum pernah mengenal sebuah bahasa pun yang tetap eksis sepanjang sejarah. Setiap bahasa punya usia, selebihnya hanya tinggal peninggalan sejarah. Bahkan bahasa Inggris sekalipun masih mengalami kesenjangan sejarah. Maksudnya, bahasa Inggris yang digunakan pada hari ini jauh berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh orang Inggris di abad pertengahan. Kalau Ratu Elizabeth II masuk ke lorong waktu dan bertemu dengan ’mbah buyut’-nya, King Arthur, yang hidup di abad pertengahan, mereka tidak bisa berkomunikasi, meski sama-sama penguasa Inggris di zamannya. Mengapa?
Karena meski namanya masih bahasa Inggris, tapi kenyataannya bahasa keduanya jauh berbeda. Karena setiap bahasa mengalami perkembangan, baik istilah maupun grammar-nya. Setelah beratus tahun kemudian, bahasa itu sudah jauh mengalami deviasi yang serius.
Yang demikian itu tidak pernah terjadi pada bahasa Arab. Bahasa yang diucapkan oleh nabi Muhammad SAW sebagai orang arab yang hidup di abad ke-7 masih utuh dan sama dengan bahasa yang dipakai oleh Raja Abdullah, penguasa Saudi Arabia di abad 21 ini. Kalau seandainya keduanya bertemu dengan mesin waktu, mereka bisa ’ngobrol ngalor ngidul’ hingga subuh dengan menggunakan bahasa arab.
Dengan kenyataan seperti ini, maka Allah SWT menetapkan bahasa arab sebagai bahasa Al-Qur’an Al-Kariem yang abadi. Kalau tidak, boleh jadi Al-Qur’an sudah musnah seiring dengan musnahnya bahasanya.
3. Bahasa Arab Mengandung Informasi yang Padat
Diantara keistimewaan bahasa arab adalah kemampuannya menampung informasi yang padat di dalam huruf-huruf yang singkat. Sebuah ungkapan yang hanya terdiri dari dua atau tiga kata dalam bahasa arab, mampu memberikan penjelasan yang sangat luas dan mendalam. Sebuah kemampuan yang tidak pernah ada di dalam bahasa lain.
Makanya, belum pernah ada terjemahan Al-Qur’an yang bisa dibuat dengan lebih singkat dari bahasa arab aslinya. Semua bahasa umat manusia akan bertele-tele dan berpanjang-panjang ketika menguraikan isi kandungan tiap ayat. Sebagai contoh, lafadz ’ain dalam bahasa arab artinya ’mata’, ternyata punya makna lain yang sangat banyak. Kalau kita buka kamus dan kita telusuri kata ini, selain bermakna mata juga punya sekian banyak makna lainnya. Di dalam kamus kita mendapati makna lainnya, seperti manusia, jiwa, hati, mata uang logam, pemimpin, kepala, orang terkemuka, macan, matahari, penduduk suatu negeri, penghuni rumah, sesuatu yang bagus atau indah, keluhuran, kemuliaan, ilmu, spion, kelompok, hadir, tersedia, inti masalah, komandan pasukan, harta, riba, sudut, arah, segi, telaga, pandangan, dan lainnya.
Bahasa lain tidak punya makna yang sedemikian padat yang hanya terhimpun dalam satu kata dan hurufnya hanya ada tiga. Dan wajar pula bila Allah SWT berkenan menjadi bahasa arab sebagai bahasa untuk firman-Nya yang abadi.
4. Bahasa Arab adalah Bahasa yang Paling Banyak Diserap
Bahkan serapan dari bahasa Arab nyaris terdapat di hampir semua bahasa asing lainnya yang ada di berbagai belahan bumi ini. Nyaris bahasa-bahasa yang kita kenal sekarang ini, telah banyak menyerap kosa kata dan istilah dari bahasa Arab. Salah satunya adalah bahasa Inggris dan tentunya bahasa Indonesia. Bahkan bahasa ilmiah di dunia sains pun tidak lepas dari pengaruh serapan kata dari bahasa Arab. Istilah alkohol, aljabar, algoritme dan lainnya adalah bagian dari serapan dari bahasa arab.
5. Bahasa Arab Memiliki Jumlah Perbendaharaan Kata yang Paling Banyak
Salah satu keistimewaan bahasa Arab lainnya adalah kekayaan dalam jumlah perbendaharaan kata. Mungkin karena usianya yang sudah tua namun masih digunakan hingga hari ini, sehingga penbendaharaan kata di dalam bahasa Arab menjadi sangat besar. Sebagai contoh, salah satu peneliti bahasa Arab mengemukakan bahwa orang Arab punya 80 sinonim untuk kata yang bermakna unta. Dan punya 200 sinonim untuk kata yang bermakna anjing.
Tentunya ini baru sebagai kecil dari sekian banyak hikmah diturunkannya Al-Qur’an dengan bahasa arab. Kita tidak tahu apa jadinya bila Al-Qur’an ini tidak berbahasa arab. Mungkin bisa jadi Al-Qur’an hanya ada di museum saja.
wallahu a'lam
Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Macam -Macam Kematian yang Syahid
Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam,Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang..
Shalawat Salam semoga tercurahkan kpd Rasulullah Muhammad Shalallahu alaihi wassalam...
Syahid/syuhada adalah seorang Muslim yang meninggal ketika berperang atau berjuang di jalan Allah membela kebenaran atau mempertahankan hak dengan penuh kesabaran dan keikhlasan untuk menegakkan agama.
Orang yang mati syahid tidak hanya orang yg mati di medan pertempuran saja,tetapi bnyk macam macam kematian yg syahid,
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Syuhada; [orang-orang yang mati syahid] itu ada lima macam: orang yang mati karena wabah, karena sakit perut, mati tenggelam, mati tertimpa reruntuhan bangunan, dan mati dalam perang di jalan Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bertanya: “Siapakah yang kalian anggap mati syahid di kalangan kalian?” Para shahabat menjawab: “Wahai Rasulallah, orang-orang yang mati terbunuh dalam peperangan sabilillah itulah orang yang mati syahid.” Beliau bersabda: “Kalau begitu hanya sedikit orang-orang yang mati syahid dari umatku.” Para shahabat bertanya: “Lalu siapa wahai Rasulallah?” Beliau bersabda: “Orang yang terbunuh dalam perang sabilillah adalah syahid, orang yang mati karena wabah penyakit adalah syahid, orang yang mati karena sakit perut adalah syahid dan orang yang mati tenggelam pun adalah syahid.” (HR Muslim)
Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa terbunuh dalam mempertahankan hartanya, maka ia syahid.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abul A’war Sa’id bin Zaid bin Amr bin Naufil ra., salah seorang di antara sepuluh orang yang dipastikan masuk surga, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa terbunuh dalam mempertahankan hartanya, maka ia mati syahid, dan barangsiapa terbunuh dalam mempertahankan darahnya [dirinya] maka ia mati syahid, barangsiapa terbunuh dalam mempertahankan agamanya maka ia mati syahid, dan barangsiapa terbunuh dalam mempertahankan keluarganya, maka ia mati syahid.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Suatu ketika datang seorang laki-laki kepada Rasulullah saw. lalu berkata: “Wahai Rasulallah, bagaimanakah jika ada seseorang datang untuk merebut hartaku?” Beliau bersabda: “Jangan kamu berikan.” Lelaki itu bertanya: “Bagaimanakah jika ia menyerangku?” Beliau bersabda: “Ganti serang dia.” lelaki itu bertanya lagi: “Bagaimana jika ia berhasil membunuhku?” Beliau bersabda: “Kamu mati syahid.” Lelaki itu bertanya lagi: “Bagaimana jika saya berhasil membunuhnya?” Beliau bersabda: “Dia berada di neraka.” (HR Muslim)
“Dan wanita yang meninggal dunia karena melahirkan itu syahid.’ (HR. Abu Daud, 3111, dishahihkan oleh An-Nawawi di Syarh Muslim, 13/62)
Dari hadist2 di atas,dpt kita simpulkan ada 10 macam mati syahid,yaitu...
1)Orang yang meninggal karena terjangkit wabah/penyakit menular.
2)Orang yang meninggal karena tenggelam.
3)Orang yang meninggal karena Tertimpa reruntuhan bangunan akibat bencana alam maupun karena bekerja.
4)Orang yang meninggal karena penyakit perut.
5)Orang yang meninggal karena mempertahankan harta bendanya.
6)Orang yang meninggal karena mempertahankan agamanya,termasuk orang yang meninggal karena mempertahankan keimanannya.
7)Orang yang meninggal karena melindungi keluarganya,insyaallah termasuk juga orang yang meninggal karena melindungi saudara dan kerabat sesama muslim.
8)Orang yang meninggal karena mempertahankan nyawanya sendiri (Terbunuh)
9)Orang yang meninggal karena berperang di jalan Allah
10)Wanita yang meninggal karena mengandung bayi,baik sebelum bersalin,saat bersalin,maupun sesudah bersalin.
Dan diantara semuanya,yang derajatnya paling tinggi adalah orang yang meninggal krn berjuang dan berperang di jalan Allah melawan musuh2 Allah Ta 'ala (Berjihaf)Jihad sendiri mempunyai 13 keutamaan,
1. Geraknya mujahid (orang yang berjihad di jalan Allah) di medan perang itu diberikan pahala oleh Allah.[Lihat at-Taubah:120-121]
2. Jihad adalah perdagangan yang untung dan tidak pernah rugi.[Lihat ash-Shaaf: 10-13]
3. Jihad lebih utama daripada meramaikan Masjidil Haram dan memberikan minum kepada jama’ah haji. [Lihat at-Taubah: 19-21]
4. Jihad merupakan satu dari dua kebaikan (menang atau mati syahid). [ Lihat at-Taubah: 52]
5. Jihad adalah jalan menuju Surga. [Lihat Ali ‘Imran: 142.]
6.Orang yang berjihad, meskipun dia sudah mati syahid namun ia sebenarnya tetap hidup disisi Allah dan diberikan rizki. [ Lihat Ali ‘Imran: 169-171.]
7. Orang yang berjihad seperti orang yang berpuasa tidak berbuka dan melakukan shalat malam terus-menerus. [. HR. Al-Bukhari (no. 2785), Muslim (no. 1878), at-Tirmidzi (no. 1619) dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu]
8. Sesungguhnya Surga memiliki 100 tingkatan yang disediakan Allah untuk orang yang berjihad di jalan-Nya. Antara satu tingkat dengan yang lainnya berjarak seperti langit dan bumi. [HR. Al-Bukhari (no. 2790) dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu]
9. Surga di bawah naungan pedang,maksudnya orang yang berjihad mereka dekat dengan surga Allah Ta'Ala [HR. Al-Bukhari (no. 3024-3025) dari Sahabat ‘Abdullah bin Abi ‘Aufa Radhiyallahu ‘anhu]
10. Orang yang mati syahid mempunyai 6 keutamaan: (1) diampunkan dosanya sejak tetesan darah yang pertama, (2) dapat melihat tempatnya di Surga, (3) akan dilindungi dari adzab kubur, (4) diberikan rasa aman dari ketakutan yang dahsyat pada hari Kiamat, (5) diberikan pakaian iman, dinikahkan dengan bidadari, (6) dapat memberikan syafa’at kepada 70 orang keluarganya. [. HR. At-Tirmidzi (no. 1663), Ibnu Majah (no. 2799) dan (Ahmad IV/131) dari Sahabat Miqdam bin Ma’di al-Kariba Radhiyallahu ‘anhu. At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih.”]
11. Orang yang pergi berjihad di jalan Allah itu lebih baik dari dunia dan seisinya. [HR. Bukhari (no. 2792), Fat-hul Baari (VI/13-14) dari Sahabat Anas bin Malik.]
12. Orang yang mati syahid, ruhnya berada di qindil (lampu/ lentera) yang berada di Surga. [ HR. Muslim (no. 1887) dan Tirmidzi (no. 3011) dari Sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu]
13. Orang yang mati syahid diampunkan seluruh dosanya kecuali hutang. [HR. Muslim (no. 1886) dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu ‘anhu at-Tirmi-dzi (no. 1640), dari Sahabat Anas Radhiyallahu ‘anhu, shahih.]
Untuk bisa mendapatkan kesyahidan terlebih dahulu anda harus memperbaiki aqidah anda,meninggalkan segala bentuk penyimpangan dalam beribadah dan harus mejalankan syariat yang lurus sesuai Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Mari kita tutup pembahasan kali ini dengan do'a dan penuh harap,semoga Allah Ta'Ala memberikan kita syahid,mengampuni kesalahan-kesalahan kita,dan memberikan kepada kita akhir hidup yang baik dan terhormat,bukan dalam keadaan hina,dan buruk.Aamiin..
Sekian,terima kasih,wallahu a'lam..
Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Langganan:
Postingan (Atom)



.jpg)


